Hanya cerita sesama pejuang tiroid. Kanker tiroid dan gangguan tiroid lainnya. Jangan kalah jangan menyerah Keputusasaan yang mengalahkanmu Bukan KANKER!

Thursday, March 31, 2016

Ultrasonografi Leher

Perjuangan dinyatakan #cancerfree itu Masya Allah luarbiasa. Saya pikir dulu pemeriksaannya itu ya tiap 6 bulan sekali itu bener-bener satu bulan hanya tatap muka dengan dokter sekali ternyata pertemuannya berkali-kali sampai benar you're in a good condition. Sampe fix. Anyway Thanks dok.



17 Maret 2016
Jadwal ultrasonografi leher yang sudah ditetapkan. Oiya di RSUP Hasan Sadikin ini kalau bagian USG ya harus dijadwal dulu biasanya 3 hari atau seminggu ke depan tergantung jadwalnya sih. Antriannya banyak. Jadi bersabar. Oiya sebelumnya rujukannya dipotokopi tiga lembar ya. Pasti diminta sih sama pendaftarannya kalau belum dipotokopi ya bersabarlah mengantri di potokopian depan ruang USG yang penuhnyaaaa itu loh. Oiya jangan lupa juga yang pasti dibawa surat eligibilitas peserta dari bagian registrasi BPJS.

Kali ini saya datang pagi sekali karena memang izin ke kantornya hanya izin setengah hari jadi pukul 09.00 WIB sudah bertengger cantik di tepian dinding ruang USG leher. Kenapa gak duduk? penuh :( kursi panjang penuh, tangga penuh, tembok-tembok pun dijadikan sandaran beberapa orang.  Baiklah skip. Akhirnya setelah pegal dan sudah ngobrol sana sini sama sesama pasien sampai kehabisan tema hehe saking lamanya, pukul 12.00 namaku dipanggil. Kurang lebih 25 menit pemeriksaan USG. Hasilnya baru jadi besok siang katanya. So bhay!

18 Maret 2016
Hasil USG ku sudah keluaaaaarrr, liat deeeeh
Itu kenapa tidak tampak nodul karena kedua tiroidku sudah diambil (sudah dioperasi) jadi tidak tampak lagi ada nodul ya. Kelenjar getah beningnya juga sehat Alhamdulillah. Tidak tampak ada sisa-sisa. Semoga senantiasa sehat ya. Yuk ah dilanjut minum thyraxnya. Sampai jumpa di check up tiroid bulan Agustus yap! Ha!


Senja Januari
Read More

Sunday, March 27, 2016

Setelah di vonis KANKER, lalu apa?

Sesaat setelah divonis kanker, lalu harus apa?

Mungkin itulah yang akan terbesit pertama kali setelah vonis KANKER dijatuhkan. Stres, tidak fokus, dunia terasa luluh lantah, tidak percaya rasanya mimpi hingga depresi berat. Ah itulah yang biasanya dirasa oleh kebanyakan orang. Jika saya pribadi rasanya seperti mimpi. Percaya tidak percaya. Karena memang riwayat kesehatan yang selama ini hampir selalu baik tanpa pernah ada riwayat dengan penyakit berbahaya.

Wajar kok, kanker bukanlah penyakit ringan saya akui. Namun sejujurnya kanker bukanlah aib, so be strong. Apa sih yang harus dilakukan setelah menerima vonis KANKER. Saya akan berbagi tips dari buku inspirasional karya mbak Tri Wahyuni Zuhri yang berjudul “KANKER BUKAN AKHIR DUNIA”

1.  Hadapi kenyataan dan yakin bisa menjalaninya
Sejatinya, tak ada yang benar-benar rela menerima vonis kanker pada awalnya. Tapi tak mungkin juga kan kita hanya berpangku tangan mendiamkan penyakit itu menggrogoti tubuh kita lalu menunggu keajaiban datang. Maka, Bangkitlah. Yakinkan dalam diri, bahwa diri ini kuat, jiwa ini kuat dan Allah akan senantiasa menguatkan hamba-Nya. Karena prasangka baik, sugesti baik serta pikiran positif akan sangat menolong. Bukankah stress juga pemicu tumbuh kembangnya kanker? So, just smile and face it!

2.  Bicarakan dengan orang terdekat
Tidak semua permasalahan dapat dihadapi sendirian. Saya akui hal ini. Apalagi seorang perempuan yang notabene butuh “telinga” untuk mendengarkan ceritanya, butuh sandaran untuk menyandarkan segala resahnya, butuh penguat di kala takut datang menyergap ketangguhannya. Dia tetaplah seorang perempuan.
      Walaupun tentunya tidak sembarangan begitu saja diumbar-umbar diceritakan pada sembarang orang apalagi di momen tak tepat. Terbukti karena nyatanya tak semua orang mampu menerima apa yang divoniskan pada kita, kebanyakan orang pasti akan terkejut dan bahkan seakan tak percaya. Banyak diantaranya yang tak mendukung ikhtiar pengobatan yang akan kita jalani serta memberi opsi-opsi lain. Membingungkan? Pasti. Maka pilihlah orang yang tepat agar ikut memberi dukungan. Kalau saya lebih memilih orang tua serta sahabat terdekat. Orang lain cukuplah tau kita kuat menghadapinya agar mereka tidak terbawa perasaan.

3.  Konsultasikan dengan Dokter
Sebaiknya ketika kita telah merasakan gejala-gejala tumbuhnya kanker, segera konsultasikan pada dokter yang sesuai bidangnya. Karena saya mengalami sendiri awal periksa ke dokter umum beliau tidak mendiagnosa apapun malah hanya diberi vitamin hehe. Mungkin karena saat itu benjolan masih sangat kecil belum berdampak pada tubuh seperti nyeri, demam dan gejala lainnya. Oiya mbak yuni memberikan informasi terkait dokter yang menangani kanker :
  1.  Dokter spesialis bedah onkologi (ahli bedah kanker)
  2. Dokter spesialis hematology onkolog (ahli pembuluh darah dan kanker)
  3.  Dokter spesialis radiolog onkolog (ahli terapi sinar dan kanker)

Seandainya di daerah tempat tinggal tidak ada dokter yang sesuai, maka bisa dikonsultasikan ke dokter berikut:
  1. Dokter spesialis kandungan untuk menangani masalah oada organ reproduksi dan Rahim perempuan
  2. Dokter spesialis THT untuk menangani masalah pada mulut, lidah serta tenggorokan
  3. Dokter spesialis penyakit dalam atau internist untuk menangani masalah organ dalam seperti hati, ginjal, dan paru-paru
  4. Dokter spesialis saraf dan pembuluh darah untuk menangani masalah pada darah, tulang, saraf dan otak
  5. Dokter spesialis anak untuk menangani masalah untuk anak-anak

Ada baiknya kita mengetahui perkembangan kanker di tubuh kita sejelas-jelasnya, sudah sampai stadium berapa. Karena pada stadium awal tentu akan lebih mudah lagi di sembuhkan

4.  Lakukan pengobatan yang sesuai

Tentunya pengobatan kanker stadium pertama dan stadium lanjut berbeda maka pilihlah pengobatan yang sesuai. Ketahui tahap-tahap penyembuhannya dengan jelas. Misalnya ketika dulu saya divonis kanker tiroid. Setelah operasi pengangkatan seluruh tiroid saya tidak menjalani kemoterapi sebagaimana kanker lain namun saya menjalani yang namanya ablasi (terapi radiasi) untuk membersihkan sisa-sisa akar kanker yang tidak bersih ikut terangkat dengan pembedahan. Tahapan semacam ini tentunya tidak saya dapatkan begitu saja dari dokter. Saya kala itu meminta banyak second opinion dari dokter lain, bertanya-tanya pada sesama pasien juga. Tentunya aktiflah bertanya.

Oiya pesan dokter onkologi saya dalam pengobatan kanker adalah konsisten. Maksudnya jangan mencampurkan metode medis dengan herbal misalnya. Jadi kalau mau pakai metode medis (kedokteran) ya ikuti sampai akhir tahapnya jangan setengah-setengah. Misalnya karena terpengaruh bisik-bisik orang yang menggunakan herbal ketika dia fase pengobatan medis di rumah sakit tiba-tiba tak pernah lagi cek ke dokter malah pindah ke herbal. Kalau herbal ya herbal sekalian. Tuntaskan. Karena banyak kasus yang setengah-setengah. Awalnya stadium awal belum tuntas pengobatan di rumah sakit, pindah ke pengobatan herbal nyatanya benjolan malah semakin besar. Akhirnya dia kembali lagi ke dokter awal dengan kondisi yang lebih parah. Tentu dua metode itu ada efek samping masing-masing jadi jangan campurkan efek samping keduanya ke tubuhmu.

5.  Gali informasi sebanyak-banyaknya
Tentunya menjadi pasien penyakit yang cukup tabu di masyarakat kita dilatih untuk menjadi individu yang aktif. Tentunya aktif mendapatkan segala informasi terkait penyakit. Mbak yuni berbagi tips sumber informasi dan pengetahuan mengenai kanker :
a.  Dokter tenaga medis yang berkompeten
b.  Survivor kanker yaitu orang-orang yang tervonis kanker dan berjuang menghadapi kanker
c.  Buku dan media cetak
d.  Televisi dan internet

Saya pribadi awal tervonis kanker, mencari informasi sebanyak-banyaknya pada sesame survivor kanker di ruang tunggu kedokteran nuklir atau ruang tunggu USG karena kebanyakan dari mereka adalah pasien kanker. Selain itu hal yang paling mudah adalah mencari diari penderita kanker di blog-blog atau media sosial. Tak lupa juga membaca perjuangan cancer survivor lain dari buku-buku. Tapi yang paling mudah sebenarnya dari internet karena dengan melihat keseharian penderita kanker lain, saya sangat belajar what to do and don’t, apa yang boleh apa yang tidak.

6.  Kuatkan mental dan Jaga kesehatan
Mental kuat akan membantu segala proses pengobatan dan penyembuhan kanker akan lebih mudah dilakukan. Tentu dengan mendekatkan diri pada Yang Maha pencipta, Allah. Ketika iman kita semakin kokoh tentu kanker tak akan menggoyahkan kita. Hati akan tetap tenang dan pikiran pun akan jernih dalam menghadapi tiap tahap pengobatan. Ketika hati baik maka baiklah seluruh badan begitulah hadits yang pernah saya baca. Ketika hati baik maka tak akan muncul stress yang bisa memicu tumbuh kembangnya kanker.
Setelah mental tentunya yang selanjutnya adalah menjaga kesehatan. Mengubah pola hidup dengan pola hidup yang sehat. Mengombinasi makanan sehat disertai olahraga rutin sehingga pengobatan pun tak akan terganggu dengan pengobatan penyakit lain.

Demikianlah yang dapat dilakukan ketika pertama kali divonis kanker. Tak perlu panik. Salam sehat semoga bermanfaat ya.


Senja Januari



Read More

Friday, March 25, 2016

Jalan Hijrah Ali Banat "Gifted with cancer"

Bismillahhirrahmaanirrahiim
Kisah ini aku dapatkan dari televisi swasta yang menayangkan kisah hijrahnya yang luar biasa menggetarkan hati yang mendengarnya. Semuanya berawal dari kanker. So touching story. I know how hard it is. Rasanya divonis kanker di usia MUDA. Takdir yang Allah tetapkan untuk sesiapa yang menurut-Nya pantas menerimanya. Tak sembarang orang tentunya. Orang pilihan.

Izinkan saya berbagi inspirasi tentang sosok inspiratif kali ini. Namanya Ali Banat. Seorang pemuda muslim asal australia. Hidupnya bisa dikatakan hidup yang diimpi-impikan kebanyakan orang. Kehidupan yang SEMPURNA. Hidup bergelimang harta, kemewahan dimana-mana karena kesuksesan usahanya. Mungkin kita tak akan percaya sebelum melihat koleksi barang mewah di kamarnya. Sepatu-sepatu bermerek seharga 1,300 US Dollar, Mobil Ferrari yang menghiasi depan rumahnya seharga 600,000 US Dollar atau bahkan sandal toilet pun rela dibelinya seharga 700 US Dollar. Luar biasa.

Hingga tiba suatu masa, Allah memberikan "Hadiah" kepada Ali Banat. Sebuah hadiah berupa vonis kanker stadium 4 yang menggrogoti tubuhnya. Kanker stadium 4 yang saya ketahui, merupakan kanker yang bisa dikatakan tingkat mukjizat. Maksudnya apa? maksudnya bisa saja dia sembuh tapi itu karena mukjizat. Karena sudah terlalu meluasnya penyebaran kanker. Setelah mendengar vonis itu, dia menziarahi makam temannya yang meninggal karena kanker. Dia begitu menyesal menangisi masa lalunya. Mempertanyakan untuk apa harta-harta berlimpahnya, percuma saja dikumpulkan sebanyak-banyaknya jika tak ada yang bisa menolongnya selamat di akhirat kelak.

Salah satu motivasi bagi banyak orang umumnya dan bagi saya penderita kanker khususnya adalah jawaban Ali ketika di tanya seorang Syeikh tentang kehidupannya, dia menjawab:

“Allah telah memberiku Hadiah, Alhamdulillah, Dengan menghadiahkan Sakit Kanker pada Setiap tubuhku, Setelah itu, aku Bertekad untuk merubah Hidupku secara Sempurna untuk Orang Fakir.

Ketika Syeikh itu menanyakan kembali, Mengapa engkau namai penyakit ini dengan Hadiah ? Kemudian Ali menjawab

“Alhamdulillah, Aku anggap ini Hadiah Karena…” Dia terdiam sambil menangis, Lalu melanjutkan jawabannya “Alhamdulillah, Aku anggap ini hadiah karena Allah masih memberikanku kesempatan kepadaku untuk berubah.” 
 
Syaikh itu keluar, Kemudian dia menanyakan sambil menunjuk ke Arah Mobil Ferrari yang Harganya $600.000  “Wahai Ali, apa yang engkau Rasakan ketika melihat ini ?”

Dengan santai, Ali Menjawab
Bermimpi untuk menyupir ini, tidak pernah terbetik dalam Benakku lagi, aku tidak ingin melakukan ini kembali”

“Setelah dikabarkan bahwasanya engkau sakit dan tidak bisa hidup lama lagi, Demi Allah ini adalah Akhir dari minat kamu, Sudah seharusnya kita Hidup tidak Mewah” Sambung Ali

Kemudian Syaikh bertanya lagi

“Akan tetapi orang-orang ingin menaikinya, ingin memilikinya, dan ingin Mengendarainya ?”

Ali Menjawab

“Demi Allah, mereka telah berharap tujuan yang salah, dan mereka tidak akan tahu, kecuali ketika telah ditimpa penyakit yang akan menghabiskan masa Hidup mereka, Ketika mereka tahu bahwa semua ini tidaklah bermanfaat untuk mereka”


Ketika Syaikh bertanya berapa harga mobil itu di hatimu, dengan mudah Ali menjawab
“Ini tidaklah berharga seperti harga sandal toilet yang aku Hadiahkan untuk anak Fakir Afrika, Demi Allah, Senyum anak itu karena Sandal tersebut sama dengan harga semua Mobil ini, Wallahil A’adziim”

Sungguh sejujurnya selama aku menyaksikan tayangan ini di televisi, air mataku terus saja menderas. Melihat ketangguhan ikhtiar seorang pejuang kanker menghadapi takdir hidupnya. Dia hijrah dengan meninggalkan segala macam kemewahan hidupnya dulu. Kini Ali berhijrah mengabdikan diri sepenuhnya di jalan Allah. Dia meninggalkan bisnisnya, menyumbangkan barang-barang mewahnya untuk orang-orang fakir di negara-negara miskin. 

Ali mendirikan sebuah komunitas nirlaba bernama Muslim Arround The World (MATW). MATW mendirikan masjid-masjid, sekolah-sekolah, rumah sakit untuk para fakir hingga sebuah desa yang dibuat khusus untuk ratusan janda-janda. Semua donasi disampaikan untuk disedekahkan sedangkan fee didapat dari sponsorship. Dia menyalami anak-anak fakir yang kurus dengan hidup yang mungkin terlihat tak layak. Dia membantu banyak orang walaupun dia tau dokter telah memvonis kehidupannya tinggal 7 bulan lagi (pertama kali video ini di share November 2015). Berarti jika takdir ajalnya telah sampai, tahun 2016 ini lah Ali akan pulang ke kampung halamannya. Kampung akhirat. 

Kisah ini mengajarkan, agar jangan pernah menunggu Allah memberi cobaan pada kita untuk mengubah kita menjadi manusia yang lebih baik. Jangan pernah berputus asa meski ujung penghidupan kehidupan kita telah terpampang di depan mata. Kejarlah ujung kesimpulan terbaik, khusnul khatimah. Aku berdoa semoga Ali senantiasa Allah beri kekuatan dan kebermanfaatan untuk sebanyak-banyaknya umat serta Allah pulangkan ia dalam keadaan khusnul khatimah kelak aaamiin.






sumber:
Mozaik Islam Trans TV
http://www.ciibroadcasting.com
https://www.gofundme.com/matwproject
kabarsalam.com
Read More

Tuesday, March 22, 2016

Thyrax adalah Levotiroksin

Apa yang pasti dicari oleh para tuna tiroid atau para hipotiroidism? Thyrax! Itu juga yang pertama kali aku tahu pasca ablasi telah dilakukan. Saat itu aku langsung meminta dosis thyrax pada dokter namun ketika diberi resep tersebut, ketika aku baca kok tulisannya Euthyrox ? Awalnya aku berpikir ouh mungkin Euthyrox tapi panggilannya thyrax kali yaaa? wkwkwk *becanda
Penampakan belakang Euthyrox 100µg


Penampakan depan Euthyrox
Bulan berikutnya ketika beli thyrax yang ku maksud ke apotik, aku membawa bungkusnya dan menunjukkan pada petugas apotek agar tidak salah membeli. Nah di bulan beruikutnya aku lupa membawa bungkusnya euthyrox, namun stock sudah menipis jadi mau tidak mau harus segera beli ke Apotek 
"Mbak ada thyrax?", tanyaku
"Yang 100 atau 50 ?" jawab petugas apotek dengan ramah
"Oh, yang 100 mbak, belinya 15 biji aja ya."

Kemudian tampak dari meja kasir aku melihat petugas apotek memasukkan tablet kecil dalam isian botol yang bertuliskan "thyrax" ke dalam plastik obat. Ouuuuhhhhhh, thyrax itu nama merek yaaaa. Kemasannya pun berbeda. Kalau euthyrox kemasannya blister kayak digambar atas sedangkan thyrax dalam wadah botolan gitu. Duh salah dong! gapapa gak yaaaa? Fix lah kusut banget pikiran, soalnya kalau dibuang ya sayang lah. Secara harga satuannya saat itu hampir Rp 2.400 per tablet. Masa dibuang gitu aja. Finally, obat itu saya konsumsi sampai hari H saya periksa bulanan ke dokter untuk menyesuaikan dosis.

Sampailah di depan dokter saya confess. "Dok, saya salah beli obat"
"Hah, obat apa maksudnya?"
"Saya beli thyrax bukan euthyrox"
"Ouuuuuhhhh, saya kira apa. Gapapa sama aja sebenernya karena sama-sama levotiroksin"
"Oiya kah? fungsinya sama dok?"
"Jadi, fungsi levotiroksin (Thyrax atau euthyrox - yang kamu maksud tadi-) itu merupakan hormon sintetik sebagai pengganti dari hormon tiroid yang tak lagi diproduksi optimal atau tak diproduksi sama sekali oleh tiroid. Dia tidak seperti obat pada umumnya. Gapapa kok. Hasil laboratorium kamu juga bagus"

Ouh ternyata sama ya, antara thyrax dan euthyrox cuma beda pabrik. Oiya untuk minum thyrax ini disesuaikan kondisi badan ya. Masing-masing penyakit punya treatment masing-masing. Ada yang dosisnya tinggi ada yang rendah tergantung pasien juga. Maka jangan sungkan berkonsultasi pada dokter spesialis. Mahal? iya sih jasa dokter spesialis kisaran Rp 120.000- Rp140.000,- (di Bandung) Tapi kalau mau gratis ya pakailah BPJS. Setidaknya untuk mengecek apakah dosis thyrax yang diminum sesuai dengan kondisi badan atau tidak. Karena jika kelebihan takutnya malah hipertiroid sedangkan kalau kekurangan malah hipotiroid. Tapi tergantung penanganan masing-masing orang juga sih. Awal saya minum thyrax, saya dibuat hipo oleh dokter. Tapi sekarang Alhamdulillah sudah stabil. Peka juga kalau badan mulai menunjukkan gejala-gejala aneh macam tremor (gemetar), kesemutan, jantung berdegup kencang, pusing-pusing, drastisnya berat badan naik atau turun, sangat mudah kelelahan dan gejala lainnya. Langsung konsultasikan pada dokter. Bisa jadi ada salah dosis atau ada efek lain. Better kalau ada apa-apa jangan latah ditanya-tanya ke orang-orang yang justru gak paham karena bukannya pencerahan malah yang ada bikin pusing kepala karena stres hehe. Tanyalah pada dokter ya :)
Oiya kisaran harga euthyrox yang biasa saya beli kalau beli 1 strip berisi 25 tablet harganya Rp58.400,- sedangkan beli satuan ya tinggal dibagi 25 sajalah. Tapi ada juga apotek-apotek tertentu yang menjual satu tabletnya Rp 2.500,- ckckckck. Hidup semahal itukah ya? Syukuri saja. InsyaAllah ada rezekinya. Salam sehat!


Senja Januari


Read More

YA ALLAH, INI KANKER YA?

Hadiah dari sahabatku (Teh Dyna) 24 januari 2016 lalu


Ya Allah, ini kanker ya?

Mungkin begitulah awal-awal mendengar vonis yang ditimpakan kepadaku dulu. Saat itu usiaku masih 21 tahun. Tak pernah terpikirkan jika benjolan di leher yang samar-samar tampak itu akan berujung pada vonis kanker. Kemudian muncul lagi pertanyaan “Ya, Allah kenapa harus aku?” stress hebat, tidak nafsu makan,  melamun hingga menangis tiba-tiba sungguh menjadi keseharianku yang tak banyak orang tau setahun yang lalu. Ya Saat awal-awal usiaku menginjak usia 22 tahun. Berangkat kuliah sepanjang jalan menangis kemudian berubah ceria ketika bertemu dosen dan bercengkrama dengan teman-teman. “Aku selalu mempertanyakan dosa apa yang aku lakukan sehingga harus ditebus dengan kanker……?”

Dulu aku pikir kanker itu musibah. Tapi dengan kasih sayang-Nya, Allah meralat pernyataanku dengan memperlihatkan padaku ketangguhan adik-adik balita yang dengan sabar, ikhlas dan tabah menghadapi kankernya masing-masing. Betapa terpukulnya aku ketika melihat seorang anak 16 bulan dengan tangan dan dada membesar sebelah akibat tumor ganas yang menggogrotinya semenjak bayi. Sudah dioperasi masih saja sebesar paha orang dewasa. atau kisah lain, tentang perjuangan seorang anak belasan tahun yang tangguh berdamai dengan leukemia (Kanker darah). Apa itu salah dia? Salah orang tuanya? Lalu salah siapa?

Nyatanya tak ada yang salah. Kanker itu TAKDIR. Titik. Dan aku selalu percaya Takdir-Nya selalu baik tergantung pada sisi mana kita hendak menjalaninya. Hendak ke sisi penuh kemarahan akan takdir-Nya atau sisi penuh keikhlasan menjemput ridho-Nya? Itu pilihanmu masing-masing. Akhirnya di usiaku sekarang Allah masih saja memberi kekuatan berlebih untuk berdamai dengan kanker. Karena aku tau, tak ada yang benar-benar sembuh dari kanker setelah ia pernah tumbuh di dalam tubuh. Yang ada adalah istirahatnya sel kanker tersebut, dengan mematikan berbagai macam pemicunya, mem-puasa-kan sel-sel kanker, memutuskan pembuluh darah yang tumbuh subur di dalam sel kankernya. Maka jikalau dulu aku memintakan doa kesembuhan pada orang-orang. Kini aku hanya memintakan agar Allah senantiasa menguatkanku untuk semakin bermanfaat untuk banyak orang, diberi kesempatan mengumpulkan bekal akhirat yang tiada putusnya dan mengembalikanku pada kesimpulan terbaik, khusnul khatimah.

Setahun, -kalau tidak salah- aku menyembunyikan dari banyak orang tentang kanker ini. Kenapa? Agar aku tenang, begitu dulu pikirku. Hal ini kulakukan karena awal-awal sebelum memutuskan untuk operasi banyak sekali kanan kiri larangan untuk operasi. Efek sampingnya bisa inilah, itulah, kankernya bisa tumbuh lagilah bahaya buat masa depanlah. Lebih baik herbal aja, lebih sehat, lebih aman, gak banyak efek samping gapapa lama juga yang penting gak ada efek samping ke depan. Gitu katanya. Fix bikin stress parah. Hingga 5 jam sebelum naik meja operasi, otakku masih disesakki dengan larangan dan efek samping yang menghantui. Orang tuaku pun langsung menasehati bahwa niat kita untuk operasi adalah menjaga hak badan, menjaga titipan Allah agar tetap sehat. Jikalau memang sudah waktuny titipan-Nya diambil maka ikhlaskanlah karena Allah. Tak ada yang perlu merasa kehilangan kan? Toh modal utama dalam menghadapinya adalah iman (keyakinan) akan janji-Nya, keyakinan akan takdir baik-Nya, keyakinan atas segala ampunan dan balasan terbaik-Nya. Berbekal hal itulah rasanya terlalu naïf jika masih saja mengeluh. Kami hanya butuh dukungan kami hanya butuh keceriaan dari rekan sekalian. Karena stress merupakan salah satu pemicu “terjadinya” kanker. Karena sungguh tak sanggup rasanya berjuang melawan sakit macam ini sendirian.


Kalau kata dokter onkologiku, kan bagus sekarang sudah punya “alarm” kan? Alarm untuk melakukan ibadah terbaik, alarm untuk menjauhi kemaksiatan, alarm untuk selalu bermanfaat untuk banyak orang. Alarm yang tak dipunyai oleh semua orang, bersyukurlah. Hanya orang-orang pilihan. Sampai akhirnya aku berani mengungkapkan pada khalayak. Hey Aku pejuang kanker tiroid!!!! Aku sehat dan aku fight! Aku tak mau kalah.


Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya                   (QS.Al-Baqarah:286)

Salam,
Senja Januari

Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

About Me

About Riska

Thyroid Cancer Survivor from Bandung, Indonesia. 24 Y.o. Akuntan di sebuah perusahaan swasta.
Diagnosa Kanker tiroid Papiler tahun 2015 menjalani 2 kali operasi pengangkatan tiroid dan ablasi di RSHS Bandung di tahun yang sama
Ada gangguan tiroid juga? Yuk sini cerita, feel free to share :)
I'm Young but Stronger than CANCER !

Popular Posts

Categories

statistics

Copyright © Curhatan Pejuang Tiroid | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com