0

Selamat Lebaran :)

Posted by Rianita Riska Diana on Sunday, July 19, 2015 in ,
Adakah yang lebih indah dari berjiwa besar memberi maaf bahkan sebelum ada yang memintanya? Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir batin :)
-Rianita Riska Diana-



0

Tiroidku Mengajarkanku (2)

Posted by Rianita Riska Diana on Saturday, July 18, 2015 in ,
Rasanya semua orang inginnya sebuah kesempurnaan. Tapi nyatanya sempurna di mata manusia tak selalu berarti sempurna di mata Allah. Yang seharusnya datang memang haruslah datang, begitu juga sebaliknya yang seharusnya pergi memang haruslah pergi.

Kamis malam aku sempat chatting dengan kakak kelasku. dia memberi tahuku tentang efek samping operasi ini itu. Selepas itu pula aku stress berat menuju operasiku. Sampai tersirat dalam hati kecilku, jika memang ada sesuatu yang terjadi ketika operasi seperti malpraktik ataupun lainnya yang mengakibatkan Allah mengambilku lebih cepat. Aku ikhlas. Mungkin takdirku berakhir di jumat itu. Tapi kemudian aku bertanya lagi Lalu bagaimana dengan amanah ini dan itu yang aku tinggalkan sementara ya? Apakah aku menjadi generasi yang tergantikan? Ya Allah..............:( Namun benarlah yang justru menguatkanmu hanyalah Allah dan prasangka baik pada Allah. Bukan yang lain.

Setelah menyerahkan hasil tes darah dan radiologi, 13 Februari 2015, siang, ba'da jumatan aku menjalani operasi pengangkatan tiroid sebelah kananku. Operasi pertamaku. Operasi yang sangat menegangkan bagiku. Masuk ruang operasi 13.30. Jam 2 kurang aku harus berganti pakaian steril untuk operasi. Masih jelas ibu membisikkan doa kesembuhan yang tak henti-hentinya diperdengarkan ke telinga sebelah kananku. Kemudian aku masuk lorong ruang operasi tanpa ditemani ibu ataupun suster. Hanya dokter berpakaian hijau khas operasi yang steril itu.

Setelah sampai di ruang operasi, kemudian dipasang alat pengecek denyut nadi dan infus semuanya dipasang dibadanku dalam keadaan sadar. Nampaknya ada setengah jam mulutku komat kamit kedinginan berdzikir dengan backsound  bunyi detak jantungku haahaha. Ah rasanya sungguh Allah itu dekat. Dokter masih sempat mengajakku berbincang dan bercanda sampai sekitar setengah jam hingga pukul 14.20 tim dokter mengajakku berdoa kemudian aku sudah tidak sadarkan diri.

Pukul 16.30 Alhamdulillah 'ala kulli haal aku sadar dengan luka terbungkus perban di leher yang kemudian langsung dipindahkan ke ruang rawat inap. Aku bersyukur Allah masih memberiku umur. dan tanpa disadari beberapa rombongan teman-temanku sudah menumpuk hadir untuk menjenguk. Ya Allah gak nyangka. Secepat ini Kau menyeka air mataku dan melukis senyum di wajahku. Pasca operasi mungkin tak lazim seperti pasien yang lain yang langsung istirahat. Selepas masuk ruangan aku langsung berbincang, tertawa-tawa bahkan walaupun dalam keadaan leher yang belum bisa menengok kanan kiri, tertawa pun rasanya masih perlu perjuangan, tapi teman tetaplah menjadi obat mujarab sesakit apapun dirimu. Terima kasih ya Allah :)

bersambung....

Salam,

Senja Januari

Baca juga : Tiroid Mengajarkanku (1)

6

Secawan kisah dibalik ruang isolasi nuklir (3)

Posted by Rianita Riska Diana on Wednesday, July 08, 2015 in , , ,
Pagi Ruang Isolasi Nuklir RSHS
Hari ke 3
8 Juli 2015, (Masih) Ramadhan 1436 H



"Ibu sudah botol ke-6 ini, udah habis berapa botol neng?" Tanya bu nonong dengan cerianya padaku pagi ini. Semoga saja kita berdua di scanning hari ini dan diperbolehkan pulang, lanjut bu nonong dengan cerianya. 
Di saat yang sama aku membalas senyum dan masih berjuang menghabiskan botol kelima ku. Huh haahhh, mual eneg. Tapi aku harus berhasil mengalahkan diriku. Sambil menutup botol besar ukuran 1500 liter itu aku buru-buru meng-amin-kan doa ibu.

Tiba-tiba ada panggilan dari luar. "RIANITA." panggil dokter yang memintaku keluar. Aku diminta berdiri 2 meter darinya. "Sudah minum berapa botol pagi ini?" Sudah mandi belum? sudah buang air belum? ada keluhan apa?" tanya dokter dengan perlahan. Aku menjawab satu persatu pertanyaan dokter ber-rompi anti radiasi itu dengan riangnya karena dokter membawa alat ukur radiasi. "yeayyyy, semoga saja paparan radiasi tubuhku sudah dibawah 2 agar bisa discanning kemudian diperbolehkan pulang." gumamku dalam hati.

Tak lama kemudian, petugas pengukur radiasi mengarahkan alat ukur itu pada tubuhku ke atas bawah atas bawah berulang-ulang dengan jarak 1 meter. Wajah dokter mengernyit. "Kok radiasi kamu masih tinggi?" tanya dokter. Tetiba hati luluh lantah rasanya. Paparan radiasiku masih 2,9. Orang yang hendak berinteraksi denganku secara langsung maksimal hanya 30 menit. Mukaku mendadak sendu. Lalu dokter hanya berpesan "Banyak makan sama minum ya, buang air sering-sering.". "Iya, dok" jawabku lesu.

Aku masuk ruang inap dan terduduk sedih. Beberapa saat kemudian aku mendengar bu nonong masuk kegirangan karena radiasinya sudah 1,7. "Ibu hebat" teriakku memujinya. Bu nonong langsung dipanggil untuk scanning tiroidnya, pertanda ia akan segera pulang. Aku terdiam di kasur sendiri pagi itu. Kemudian jalan tergopoh menyeret sandal sekenanya ke kamar mandi mengambil air wudhu. Lebih baik aku menenangkan diri dan segera shalat dhuha. Setelah shalat, sambil menonton tv aku meminum sebanyak-banyaknya air. Aku harus berjuang. berjuang melawan diri sendiri minimal. 

Pukul 10.00 tiba-tiba namaku dipanggil lagi dari luar. Dengan berjalan lesu aku menengok setengah ke luar. Ternyata petugas scanning. Yeaaayyy, "Kamu bawa air minum segera ke ruang scanning ya" katanya. Dengan ceria aku lantas menuju basement tempat scanning dilakukan. Biar gak nervous selfie duluuu hehehehe~

Akhirnya scanning 30 menit itu selesai juga dan petugas memintaku segera masuk ke ruangan lagi. "Kamu makan dan minum yang banyak ya, besok pagi setelah mandi kamu dicek lagi paparan radiasinya. Semoga besok bisa pulang." pesan dokter menutup siang yang mendebarkan.


Benar, semua jawaban Allah atas doa kita  itu "Ya" semua :
Ya, saat ini kuberikan
      Ya, tunggu aku ingin lihat usahamu dulu
             Ya, Tidak dengan ini, aku punya yang lebih baik dari ini

Dan, YA. Kamu sembuh. Belum sekarang tapi besok :)




0

Secawan kisah dibalik ruang isolasi nuklir (2)

Posted by Rianita Riska Diana on Tuesday, July 07, 2015 in , , , ,
Pagi hari
Ruang isolasi hari ke-2
Selasa, 7 Juli 2015, Ramadhan 1436 H

Pagi Susu coklat, telur rebus dan roti tawar isi selai strawberry (Sarapan setiap pagi di ruang rawat inap isolasi RSHS) :) Tulisan ini juga diselesaikan sambil menghabiskan sebotol air mineral ukuran 1500 liter. Ya, 1500 liter untuk ketiga kalinya. 
Yap, harus habis pagi ini. Harus banyak penyakit yang harus ia bawa keluar dari tubuhku. Rasanya? Ah cobalah bayangkan menahan rasa tidak nyaman akibat iodine radioaktif yang aku minum kemarin sore, mual dan langu. Tapi aku harus banyak makan dan minum untuk membuang penyakit-penyakit yang ditangkap iodine radioaktif itu serta paparan radiasi di tubuhku cepat berkurang dan aku diperbolehkan segera pulang.


Ini sudah botol ketigaku, semangat! Setengah botol lagi.
Ibuku baru saja datang membawakan makanan kesukaanku. Banyak makan katanya. Jadi dia membawakanku emping jagung pedas, kentang pedas, kerupuk pedas, anggur, strawberry, jeruk, nata de coco strawberry, dan pastinya rendang. Hmmm
Iyah, disini bebas kok mau makan apa kecuali seafood atau makan makanan ber-iodium tinggi. Daripada pusing mual-mual makan makanan yang disediakan rumah sakit (kurang bumbu sesuai pertimbangan ahli gizi) lebih baik minta tolong orang rumah untuk mengantarkan makanan yang kita suka. Dibalik kiriman makanan dari rumah, ada cinta yang rupanya diam-diam terbaca, ada doa yang diam-diam diulang-ulang tiap malam oleh mereka.

Ada semangat dibalik pertanyaan “Rianti, Kamu sudah minum  air berapa liter pagi ini?”. Yiah sudah hari kedua dokter selalu salah memanggil namaku. Rianti. Mungkin terlalu ribet memanggil Rianita. Tapi aku bahagia banyak orang peduli padaku. Kamu harus semangat sehat. Kesembuhan Allah yang punya. Mintalah umurmu diberkahkan-Nya. Semangat seolah bertambah ketika pertanyaan itu kembali dipertanyakan. Ya, intinya mereka ingin aku juga semangat. Semangat untuk mengalahkan ego. Semangat mengalahkan diri sendiri. Semangat segera memulihkan kesehatan.

Ada doa di tiap pertanyaan cemas orang-orang yang mencium gerak gerikku di-isolasi nuklir kemarin. Tadi pagi banyak sekali BBM (Blackberry messenger) dari rekan yang tampak khawatir membaca statusku. “Kamu sakit lagi ka?” “Teteh dirawat lagi?” dan masih banyak pertanyaan serupa yang terulang. Aku jawab saja, “ Tidak, aku hanya harus banyak makan dan minum saja terapi pasca operasi kemarin”. Ternyata jawaban macam ini cukup melegakan mereka. Terima kasih sudah percaya. Terima kasih karena sudah banyak mendoa banyak-banyak untukku.


Terima kasih atas prasangka baik. Doa yang tak tereja namun sampai pada-Nya

Di Ruang isolasi nuklir RS. Hasan Sadikin (Hari kedua)

Salam,

Senja Januari



2

Secawan kisah dibalik ruang isolasi nuklir (1)

Posted by Rianita Riska Diana on Monday, July 06, 2015 in , , , , ,
17.53

6 Juli 2015
Welcome to the war!!
Awas bahaya! Radiasi!
Yah begitulah tulisan mengerikan terpasang di depan kamar kami.


Kamar yang cukup luas untuk kami berdua. Aku dan seorang ibu paruh baya yang sangat tangguh yang kini menjalani ablasi keduanya. Seorang ibu yang sangat baik dengan ikhlas selalu berbagi ini itu tips ini dan tips itu.

Semua baju yang aku kenakan awal datang kesini tadi harap di masukkan ke dalam plastik kemudian dimasukkan ke lemari dan jangan dipegang hingga tingkat radiasi ku normal beberapa hari ke depan nanti. Aku diberi baju berbentuk seperti kimono berwarna ungu yang cukup hangat dan nyaman. Semua baju yang aku kenakan harus dibungkus plastic dengan rapi karena semuanya sudah terpapar radiasi. Yiah begitulah briefing singkat suster padaku.

Sebelum diminumkan iodium radioaktif dengan takaran 100 millicuries, aku diminta minum obat anti mual dahulu untuk mengurangi efek pasca diminumkan nuklir nanti. Kemudian kemasan besi berwarna kuning bertuliskan namaku itu langsung diminta suster berompi anti radiasi, bermasker dan sarung tangan lengkap untuk aku minum. Bismillah ucapnya membimbingku.

Cairan bening dan tak berasa itu sudah masuk ke tubuhku. Dia akan menempel pada sel-sel kanker dalam tubuhku. Rasanya memang agak berat di leher. Tapi motivasi dari ibu sekamarku, “Jangan berpikir kamu sedang dalam pengobatan. Biasa saja, kalau tiba-tiba mual anggap saja bukan apa-apa.” Begitu motivasinya padaku berulang kali. "Ya bu, terima kasih", jawabku yang juga berulang kali padanya.  
Aku bertanya-tanya, kenapa ibu ini harus menjalani ablasi yang keduanya, malah di ruang tunggu tadi ada seorang ibu yang menjalani ablasinya untuk ketiga kali dan kelima kali.
Ketakutan membayang cukup hebat dibenakku, haruskah aku melakukan hal yang sama kelak? Haruskah ujian ini aku lewati berkali-kali kelak? Menahan air mata pun tak kan berarti apa-apa jika tak bertanya pada sang Pemilik badan ini, pada Sang Pemilik hati ini. Semua takkan berarti jika tak berprasangka baik pada Allah, Semua tak kan berarti. Bukankah prasangka juga berarti harap yang tak dieja? Sedangkan tiap harap selalu didengarkan oleh Allah.

Rupanya Allah lebih tau bagaimana melindungi dan menyayangi hamba-Nya, Allah tau bagaimana cara memberkahkan rezeki hamba-Nya, Allah tau bagaimana cara menggugurkan dosa-dosa hamba-Nya.
Pappiliary Carcinoma Thyroid Dextra. Sederhananya Kanker tiroid. Tak pernah terbayangkan akan mengidap penyakit itu. Penyakit kanker. Tak pernah. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir riwayat kesehatanku baik-baik saja dan berprasangka baik atas semuanya. Namun rupanya ada pelajaran yang hendak Allah sampaikan. Yang bisa jadi hikmah dari peristiwa H-3 bulan dokter memvonis kanker ini yang ikut menjadi pemicu munculnya kanker ini. Emosi yang mendalam dan dipendam tak terungkapkan. Bisa jadi. Tapi aku sudah mengikhlaskan itu semua. Ikhlas seiring kanker yang jua sudah diikhlaskan. 
Kanker itu bukan ujian ataupun musibah. Kanker adalah takdir. Suatu ketidakmungkinan dalam benak manusia yang dengan mudahnya Allah mungkinkan dengan "Kun Faa yakun"-Nya.

Di Ruang isolasi nuklir RS. Hasan Sadikin (Hari Pertama)


Baca juga: Secawan kisah dibalik isolasi nuklir (2)
                secawan kisah dibalik ruang nuklir (3)


Salam,

Senja Januari

Copyright © 2009 CURHATAN PEJUANG TIROID All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.