0

Ka, kapan nikah?

Posted by Rianita Riska Diana on Tuesday, October 13, 2015 in
Dalam satu weekend ada 5 undangan pernikahan. Dari teman seangkatan, teman kantor, teman kuliah, teman SD. LENGKAP! Dan satu moment yang tak terlepas dari moment ini adalah menghadapi pertanyaan 
"Ka, kapan nyusul nikah?" 
atau komentar-komentar lain yang senada. Seperti ketika memposting foto sebagai pager ayu di akun bbm minggu lalu. 
"Teh, aku bosen ngeliat teteh jadi pager ayu, kapan dong ngejadiin aku pager ayu?".
Rasanya itu loooohhh menghujaaaam! atau sindiran seorang teteh yang basa-basi bercakap dengan temannya di sebelahku minggu lalu 
A: Hai teh apa kabar? sibuk apa aja sekarang? R: Baik, gak sibuk kok diem aja dirumah A: Daripada diem di rumah mending ngurus suami tehhhhh. Omaygaaattt

Fitrah kok orang-orang bertanya hal itu. Usia yang sudah wajar menikah, sudah bekerja walaupun studi belum selesai dan aspek-aspek lainnya. Walaupun bagi sebagian orang itu pertanyaan basa basi yaaa ada juga sih yang bertanya serius (tapi bisa keitung jari hihihihi). Hati-hati aja sih takutnya pertanyaan seperti itu menimbulkan dampak ke-baper-an yang kontinyu. Kalaulah bapernya disandarkan pada yang kekal (Allah) ya aman. Tapi kalau disandarkan pada yang rapuh (manusia)? ahhh sudahlaaah. Takutnya mengotori niat menikah. Yang tadinya ingin meraih ridho Allah tapi malah jadi ingin buru-buru dan mengabaikan apa-apa yang diingini Allah. Jadinya kan hawa nafsu yang berperan.

Tergesa-gesa itu datannya dari syaithan. Perlulah ada baiknya kita menginstropeksi diri mengevaluasi niat. Karena 'ingin' dan 'siap'  itu berbeda. Semua juga ingin menikah tapi hanya sebagian dari mereka yang siap. Siap? Siap tak harus loh berbicara mengenai kematangan usia. ianya diukur dari seberapa cukupkah persiapan yang telah disiapkan. Tidak harus berstandar pada wanita menikah usia 25 atau laki-laki menikah usia 28 misalnya. TIDAK. Tapi jika kita memang menargetkan menikah usia 20 ya berarti persiapan pernikahannya beberapa tahun sebelum itu kan? Persiapan fisik, jasmani, rohani, keuangan hingga keluarga. Tak ada yang salah dari menikah muda. asalkan sudah dipersiapkan. Tentunya bukan menikah atas dasar "dipanas-panasi" oleh pihak sana-sini.

Terkadang basa-basi memang tak mengapa tapi adakalanya juga harus melihat siapa yang kita tanya. Siapa tahu dia lama menahan rasa. Ingin segera menikah tapi belum dipertemukan jua. Jangan juga kata-kata kita sampai melukainya, mengubah niatnya dan mengotori hatinya. naudzubillah,

X: So, kapan nikah?
R: Daripada nanya kapan mending bawain calonnya ha ha ha InsyaAllah segera. doakan ya :')

Salam,

Senja Januari

0

MERDEKA dari penjajah selain Allah!

Posted by Rianita Riska Diana on Friday, August 28, 2015 in
Terjajah

Terjajah berarti tidak memiliki hak penuh untuk mengendalikan dirinya sendiri karena adanya campur tangan orang lain dan atau karena bergantung pada orang lain. Dengan kata lain MENGHAMBA pada yang tidak berhak.

Jadi oleh siapa kita seharusnya "dijajah" ? Cek QS. Adz-Dzariyat : 56
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku"
 Dalam ayat tersebut dijelaskan makna BERIBADAH. Beribadah berarti : Berserah diri, mengabdi, taat, bergantung dan bersandar. Berserah diri berarti menyerahkan segala urusan kita pada Allah SWT. Mengabdi berarti mengarahkan segala potensi kita pada sesuatu yang kita abdi. Taat berarti ikhlas menjalankan segala yang diatur tanpa tapi. Bergantung berarti menggantungkan segenap jiwa raga pada sesuatu. Bersandar berarti menjadikan sesuatu itu tempat "kembali" tempat mengadu, karena percaya kekuatan tempat bersandarnya itu lebih kuat dari kekuatan dirinya.
Jadi jelaskan maksudnya? berarti yang harusnya "menjajah" kita adalah ALLAH :) atau dengan kata lain pribadi merdeka berarti MENGHAMBA pada yang berhak yaitu ALLAH. Karena justru manusia yang paling merdeka adalah manusia yang paling terjajah oleh Allah. Intinya jangan sampe penghambaan kita itu salah fokus. Bukankah dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi apa-apa yang dilarangnya kita dituntun untuk menjadi manusia-manusia takwa oleh-Nya?

Jika kita sudah tau oleh siapa kita dijajah, maka tak akan ada lagi yang hancur hatinya. Ungkapan "Hancur hatiku" itu karena diri membangun sebuah harapan pada sesuatu yang rapuh. Jika harapan itu dibangun pada sesuatu yang qowiy (kuat), bukankah kita juga akan bertambah kokoh menghadapi masalah-masalah yang hadir silih berganti. Dan hanyalah Allah yang Maha kuat, Maha besar, Maha Bijaksana. Selain itu tak akan ada pula ungkapan kekecewaan yang hadir dari menempatkan sesuatu yang tidak seharusnya. Kecewa karena menaruh harapan pada manusia yang juga sama-sama fana. Ah, kamu. Mau-maunya terjajah oleh sesuatu yang tak seharusnya menjajahmu.

Mau terjajah oleh ego? harta? tahta? atau seseorang yang gak halal? Pilihan untuk mau terjajah dan tidak mau terjajah itu diputuskan oleh dirimu oleh hatimu. Remember, terjajah itu karena bersedia terjajah. Hati itu keputusan. Kamu bisa memutuskan untuk berhenti sakit hati, kamu bisa juga memutuskan berlama-lama sakit hati. Itu semua keputusan hatimu, mau terjajah atau merdeka.  Ingat motion create emotion, emotion create motion. Perasaaan mencipta gerakan, gerakan mencipta perasaan, Tenang dan berani perlu diupayakan.

Bagaimana agar kita merdeka?
  1. Pastikan selalu sadar (diri hamba Allah). Sadar bermakna memiliki kendali atas diri kita. Kalau mengarahkan harus sadar dulu.
  2. Pastikan selalu objektif. Objektif bermakna fokus pada APA bukan SIAPA.
  3. Pastikan selalu yakin. Yakin bermakna 100% yakin. Jika masih 99% yakin berarti masih ragu. Yakin itu sifatnya mandiri. Yakin itu maju ATAU mundur bukan maju mundur cantik!

Masih aja mau terjajah? Yuk putuskan. Yuk merdeka!
Surat penutup yang kece:  QS.Ath-Thalaq: 2-3.
 I hear and Obey. Sami'na Wa Atho'na
Allahu a'lam bis shawwab



-Sebuah tausiyah dari Febrianti Almeera dalam kajian The Great Muslimah (Dengan sedikit tambahan)
 20 Agustus 2015, Rabbani Hypnofashion Hall Dipatiukur Bandung 

Salam,

Senja Januari

0

HAI Diploma, Kapan Sarjana?

Posted by Rianita Riska Diana on Thursday, August 27, 2015 in ,
Salam.
Hai mahasiswa/i dan segenap lulusan DIPLOMA 3 yang berbahagia!
Salam kenal  dan Welcome to the jungle !
Sudah "A.Md" lantas hendak apa? Kerja? Kuliah lagi? Kerja sambil kuliah?
Masih bingung? baik saya ceritakan sedikit pengalaman saya, semoga bermanfaat. Sebulan pasca lulus, alhamdulillah saya sudah diterima di bagian HRD di sebuah perusahaan tour and travel kala itu. 4 bulan pertama saya jalani tanggung jawab saya sebagai karyawan. Rumah-Kantor. Just it. Bosen? Belum sih, namanya masih awal-awal kerja masih excited aja atas apa-apa yang didapat dan dikerjakan.
Tapi kok rasanya kosong ya? Rasanya gak berkembang aja, butuh asupan. Kerja-gajian-nabung-habis terus aja gitu.

Akhir desember 2013 saya memutuskan tes di sebuah universitas swasta untuk mengikuti kelas reguler sore.
Pertimbangan saat itu (tahun 2013), ketika kamu hendak kerja sambil kuliah ada beberapa universitas pilihan, yaitu :
  1. Universitas Pasundan. Jurusan akuntansi akreditasi A. Alamat Jl. Tamansari depan UNISBA. Kelas Reguler Sore. (Senin-Sabtu)
  2. Universitas Widyatama. Jurusan Akuntansi akreditasi B( sekarang sudah A). Jl. Cikutra No 204 A. Pilihan Reguler pagi dan sore (Senin-Sabtu)
  3. Universitas Sangga Buana (YPKP) Jurusan Akuntansi akreditasi A. Jl. PHH Mustopa dekat terminal. Pilihan reguler sore. Kelas senin-jumat atau sabtu minggu.
  4. Univeristas Islam Nusantara
  5. Bina Sarana Informatika
  6. Universitas Nasional PASIM 
  7. Politeknik piksi ganesha
  8. Universitas Terbuka
Dari pilihan-pilihan tersebut yang dijadikan pertimbangan orang tua adalah pilihan pertama kedua dan ketiga. Kenapa? karena based on experience. Tetangga, teman dan rekan-rekan lainnya. Setelah berunding cukup pelik, fuaaalaaahh pilihan jatuh pada pilihan pertama. Dua tetangga yang dahulu diploma 3 Unpad semuanya melanjutkan ke Universitas  Pasundan. Oh yasudah. Kalau bingung, pilihlah kampus dengan menyesuaikan jadwal kerja. 

 Setelah berbagai tes dan wawancara dijalani, alhamdulillah saya diterima di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas pasundan Bandung. Awal perjuangan kuliah sambil kerja? males, capek, ngeluh terus. Hahaha jangan ditiru. Bayangin aja, pukul 07.00 WIB saya berangkat kerja di jatinangor, terus kerja sampai pukul 16.00 WIB kemudian harus langsung buru-buru berkemas dan segera berangkat ke kampus daerah tamansari Bandung karena masuk kuliah pukul 17.00 WIB. Kemudian kuliah sampai pukul 19.00 atau di hari-hari tertentu sampai 20.30 WIB. Parahnya kalau UAS bisa pulang jam 22.00 dari kampus. How's amazing, isn't? HAHAHA.

Menyerah? GAK! Saya sudah berhasil melawan rasa MALAS, CAPEK dan KELUHAN itu, sudah 1 tahun 6 bulan saya menjalani perjuangan itu alhamdulillah, sekarang sedang skripsi. doakan. Awalnya lelah, tapi ubahlah sudut pandang dan luruskan niat selalu. Imam Syafi’i mengatakan, “Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.” jelas? Malas sama saja memperturutkan hawa nafsu. Intinya sih jika enggan bersabar melepas kesenangan hawa nafsu dan enggan pula bersabar melawan kejenuhan belajar maka bersiaplah bersabar menghadapi kesengsaraan dan kebodohan kelak.

Selain bisa menambah banyak ilmu, dengan kuliah lagi juga bisa promosi jabatan kan? hahaha. Walaupun tujuanku sesungguhnya bukan kesana. i don't wanna be a carrier woman actually. I wanna be first school for my children soon. Kalaupun berpenghasilan, i wanna be a mompreneur :) InsyaAllah aaamiin. Intinya gak ada ruginya melanjutkan kuliah sambil kerja, karena manfaatnya akan dirasakan beberapa tahun kemudian. Selamat berjuang teman-teman seperjuangan, semangat berjuang menuju sarjana, kemudian masternya syukur-syukur Allah mudahkan mendapat professornya!  

Salam semangat.
See you on the top!

Salam,

Senja Januari


2

Beginilah thyrax menemani hariku

Posted by Rianita Riska Diana on Thursday, August 13, 2015 in , , ,
Euthyrox 100 µg 
Sudah sebulan tablet putih ini menjadi pembuka hari-hari ku. Setelah tiroidektomi yang aku lakukan akhir Mei 2015 lalu berarti sudah fix sekarang aku harus menjalani hari-hari panjangku tanpa kelenjar tiroid, SAMA SEKALI. Kelenjar tiroid merupakan kelenjar TERBESAR dalam tubuh manusia. Terbayangkan? Sedih? Jangan kau tanya aku bagaimana rasanya awal aku mendengar vonis dokter dulu. Aku pernah sedih karena manusia, aku pernah sedih karena kegagalan-kegagalan, aku pernah sedih karena dikecewakan, tapi Allah "menamparku" dengan kesedihan yang mampu menghapus semua duka karena dunia. Allah membuatkanku sebuah "sedih" yang membuatku lupa hal-hal semu. Termasuk kamu. Sedih karena harus MENGINGAT MATI. Seketika sirnalah semua sedih atas sebab-sebab yang semu. 

Ah baiklah, mari move on!
Baiklah, sudah sebulan tyrax bekerja di tubuhku. Untuk menjamin penyerapan, Thyrax harus diminum ketika perut kosong. Obat-obat yang mengganggu penyerapannya adalah Kalsium, zat Besi dan obat maag. Kalau untukku yang penderita hipotiroid pasca pengangkatan tiroid karena penyerapan makanan oleh lambung bekerja 4-6 jam maka thyrax baru bisa diminum bangun tidur dengan jarak makan terakhir 4-6 jam yang lalu dan baru boleh makan 2 jam kemudian. Penyesuaian dosis kemarin aku dimarahi dokter karena salah cara meminum thyrax ini. Seharusnya ketika aku hendak makan thyrax pukul 04.00 otomatis pukul 22.00 atau 23.00 adalah jam-jam terakhir aku makan. Tapi namanya juga mahasiswi nyekripsi kemarin sempet bandel karena bergadang pukul 01.00-02.00 ngemil kemudian tidur lagi dan bangun pukul 04.00 lalu makan thyrax. Tau gimana respon dokter? Omaygat! hahahaa Don't try this at home. 

Perlu diingat nih, thyrax ini bukan untuk mengobati tapi untuk melengkapimu. Iya seperti kamu yang melengkapiku #eh. Jangan takut dia akan bekerja seperti obat kimia pada umumnya. Justru bagi pasien-pasien dengan gangguan tiroid yang tidak mampu memproduksi hormon tiroid dengan cukup thyrax jadi bagian penting. Ingat diminum SETIAP HARI. Gak usah sok bandel sok sok kuat hidup sehat tanpa obat. HEY! Realistis aja kalau hidup. Kalau dulu ada kelenjar tiroid yang memproduksi hormon tiroid dengan cukup sekarang kalau sudah diangkat tiroidnya otomatis hilanglah "pabrik" produksi hormon tiroid, lantas dari mana dan oleh siapa hormon itu ada dan bekerja di tubuh? 

Ikuti anjuran dokter, periksalah secara rutin, rajin-rajinlah menyesuaikan dosis thyrax yang diminum. Kalau awal-awal sebulan sekali. Namun jika setelah cek TSH sensitif ternyata kadar nya sudah baik, dosisnya sudah tepat maka datanglah 3 bulan sekali kemudian 6 bulan sekali untuk mengecek kondisi tubuh. Sebulan setelah minum thyrax dengan dosis 100 µg kemarin, hormon tiroid masih rendah, walhasil euthyrox dengan dosis 100 µg  harus dinaikkan dosisnya. Senin, rabu, jumat, sabtu, minggu minum thyrax dengan dosis 100 µg, selasa dan kamis minum thyrax dengan dosis 150µg. Coba kita cek sebulan lagi ya! Salam sehat :)



Salam,

Senja Januari

0

GEULIS, such a gift of happiness :)

Posted by Rianita Riska Diana on Monday, August 10, 2015 in
Ini bukan kisah tentang sebuah perusahaan tapi ini kisah sebuah rajutan ukhuwah yang tak terduga manusia tapi sudah digariskan oleh Allah.

Kenal geulis sejak usia 20 tahun, tepat sebulan setelah bergelar ahli madya. Masih polos, suka ditipu, suka di-bully, suka dijadiin tempat pembuangan "curhatan", dan paling bungsu sehingga tak tau kenapa secara otomatis memposisikan diri sebagai bungsu dari akang-akang yang bawel, galak, pundungan dan galau. Saya percaya setiap peristiwa tak begitu saja turun dari langit dengan sia-sia tanpa arti. Dan kalian dihadirkan ke episode hidup saya dengan menggoreskan banyak arti.

Tak terasa 2 kali sudah bumi mengelilingi matahari, dan selama itu pula aku "belajar" darimu Geulis. Tak pernah membayangkan akan bekerja 8 jam sehari di dalam ruangan full of IKHWAN and be the only one AKHWAT. Never! Tak mengira Allah akan memberikan hadiah "pelajaran" hidup di tempat semenyenangkan ini! tempat saya belajar menikmati hidup. Kita mungkin paham bagaimana cara mengorbankan sekian tahun kita untuk mendapatkan gelar sarjana, bekerja keras untuk mendapatkan gaji setiap bulannya, membeli hape  turbo kesukaannya, mengredit gadget tercanggih lainnya akan tetapi terkadang kita lupa bagaimana mensyukurinya. Kita lupa merengkuh kebahagiaan di hari ini. Lupa berdamai dengan diri di hari ini. Terlalu fokus pada hal-hal belum pasti (masa depan) namun lupa bahwa dia hidup di masa sekarang, satu-satunya masa saat kita benar-benar hidup.

Rasanya seperti kemarin saya mengeluh lelahnya berkendara motor dari Bandung-Jatinangor, rasanya seperti kemarin berdebar jantung di hari-hari pertama masuk kantor, di lingkungan yang full ikhwan. rasanya seperti kemarin aku mengeluh karena sistem perusahaannya ternyata harus banyak dibenahi oleh fresh graduate yang belum banyak punya pengalaman sepertiku. Tapi nyatanya sudah 2 tahun. Dan keluhan, cerita, tawa, senyum itu telah jadi masa lalu. Yang ternyata sekarang menjadi tempat memutar rekaman lama untuk dijadikan pelajaran atau sekedar mengukir tawa.

Thanks for giving me an chance to grow up together, to learn together, to shine together. I learn so much lessons of life, here. Semoga kelak tempat ini bisa menjadi tempat lebih banyak orang belajar juga mencari nafkah serta tentunya mendekatkan diri mereka pada Tuhannya. May Allah bless  the owner and also the head of company.
Hidup ini lucu ya. Dulu tak pernah terbayang akan bertahan selama ini di tempat ini. Rencana-rencana hidup lain telah dirancang, tapi ah dasar manusia selalu saja lupa Tuhan selalu punya penghapus dan pulpen koreksi rencana-rencana hamba-Nya. So happy being part of you. World, please introduce my new "family", Geulis team! (Dari kiri: Teh Alfi (istri kang Edi), Kang Edi, Kang Deden, Kang Ardi, Kang Lukmawan, and me :))


To be continued.... InsyaAllah :)

Salam,

Senja Januari


0

Selamat Lebaran :)

Posted by Rianita Riska Diana on Sunday, July 19, 2015 in ,
Adakah yang lebih indah dari berjiwa besar memberi maaf bahkan sebelum ada yang memintanya? Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir batin :)
-Rianita Riska Diana-



0

Tiroidku Mengajarkanku (2)

Posted by Rianita Riska Diana on Saturday, July 18, 2015 in ,
Rasanya semua orang inginnya sebuah kesempurnaan. Tapi nyatanya sempurna di mata manusia tak selalu berarti sempurna di mata Allah. Yang seharusnya datang memang haruslah datang, begitu juga sebaliknya yang seharusnya pergi memang haruslah pergi.

Kamis malam aku sempat chatting dengan kakak kelasku. dia memberi tahuku tentang efek samping operasi ini itu. Selepas itu pula aku stress berat menuju operasiku. Sampai tersirat dalam hati kecilku, jika memang ada sesuatu yang terjadi ketika operasi seperti malpraktik ataupun lainnya yang mengakibatkan Allah mengambilku lebih cepat. Aku ikhlas. Mungkin takdirku berakhir di jumat itu. Tapi kemudian aku bertanya lagi Lalu bagaimana dengan amanah ini dan itu yang aku tinggalkan sementara ya? Apakah aku menjadi generasi yang tergantikan? Ya Allah..............:( Namun benarlah yang justru menguatkanmu hanyalah Allah dan prasangka baik pada Allah. Bukan yang lain.

Setelah menyerahkan hasil tes darah dan radiologi, 13 Februari 2015, siang, ba'da jumatan aku menjalani operasi pengangkatan tiroid sebelah kananku. Operasi pertamaku. Operasi yang sangat menegangkan bagiku. Masuk ruang operasi 13.30. Jam 2 kurang aku harus berganti pakaian steril untuk operasi. Masih jelas ibu membisikkan doa kesembuhan yang tak henti-hentinya diperdengarkan ke telinga sebelah kananku. Kemudian aku masuk lorong ruang operasi tanpa ditemani ibu ataupun suster. Hanya dokter berpakaian hijau khas operasi yang steril itu.

Setelah sampai di ruang operasi, kemudian dipasang alat pengecek denyut nadi dan infus semuanya dipasang dibadanku dalam keadaan sadar. Nampaknya ada setengah jam mulutku komat kamit kedinginan berdzikir dengan backsound  bunyi detak jantungku haahaha. Ah rasanya sungguh Allah itu dekat. Dokter masih sempat mengajakku berbincang dan bercanda sampai sekitar setengah jam hingga pukul 14.20 tim dokter mengajakku berdoa kemudian aku sudah tidak sadarkan diri.

Pukul 16.30 Alhamdulillah 'ala kulli haal aku sadar dengan luka terbungkus perban di leher yang kemudian langsung dipindahkan ke ruang rawat inap. Aku bersyukur Allah masih memberiku umur. dan tanpa disadari beberapa rombongan teman-temanku sudah menumpuk hadir untuk menjenguk. Ya Allah gak nyangka. Secepat ini Kau menyeka air mataku dan melukis senyum di wajahku. Pasca operasi mungkin tak lazim seperti pasien yang lain yang langsung istirahat. Selepas masuk ruangan aku langsung berbincang, tertawa-tawa bahkan walaupun dalam keadaan leher yang belum bisa menengok kanan kiri, tertawa pun rasanya masih perlu perjuangan, tapi teman tetaplah menjadi obat mujarab sesakit apapun dirimu. Terima kasih ya Allah :)

bersambung....

Salam,

Senja Januari

Baca juga : Tiroid Mengajarkanku (1)

6

Secawan kisah dibalik ruang isolasi nuklir (3)

Posted by Rianita Riska Diana on Wednesday, July 08, 2015 in , , ,
Pagi Ruang Isolasi Nuklir RSHS
Hari ke 3
8 Juli 2015, (Masih) Ramadhan 1436 H



"Ibu sudah botol ke-6 ini, udah habis berapa botol neng?" Tanya bu nonong dengan cerianya padaku pagi ini. Semoga saja kita berdua di scanning hari ini dan diperbolehkan pulang, lanjut bu nonong dengan cerianya. 
Di saat yang sama aku membalas senyum dan masih berjuang menghabiskan botol kelima ku. Huh haahhh, mual eneg. Tapi aku harus berhasil mengalahkan diriku. Sambil menutup botol besar ukuran 1500 liter itu aku buru-buru meng-amin-kan doa ibu.

Tiba-tiba ada panggilan dari luar. "RIANITA." panggil dokter yang memintaku keluar. Aku diminta berdiri 2 meter darinya. "Sudah minum berapa botol pagi ini?" Sudah mandi belum? sudah buang air belum? ada keluhan apa?" tanya dokter dengan perlahan. Aku menjawab satu persatu pertanyaan dokter ber-rompi anti radiasi itu dengan riangnya karena dokter membawa alat ukur radiasi. "yeayyyy, semoga saja paparan radiasi tubuhku sudah dibawah 2 agar bisa discanning kemudian diperbolehkan pulang." gumamku dalam hati.

Tak lama kemudian, petugas pengukur radiasi mengarahkan alat ukur itu pada tubuhku ke atas bawah atas bawah berulang-ulang dengan jarak 1 meter. Wajah dokter mengernyit. "Kok radiasi kamu masih tinggi?" tanya dokter. Tetiba hati luluh lantah rasanya. Paparan radiasiku masih 2,9. Orang yang hendak berinteraksi denganku secara langsung maksimal hanya 30 menit. Mukaku mendadak sendu. Lalu dokter hanya berpesan "Banyak makan sama minum ya, buang air sering-sering.". "Iya, dok" jawabku lesu.

Aku masuk ruang inap dan terduduk sedih. Beberapa saat kemudian aku mendengar bu nonong masuk kegirangan karena radiasinya sudah 1,7. "Ibu hebat" teriakku memujinya. Bu nonong langsung dipanggil untuk scanning tiroidnya, pertanda ia akan segera pulang. Aku terdiam di kasur sendiri pagi itu. Kemudian jalan tergopoh menyeret sandal sekenanya ke kamar mandi mengambil air wudhu. Lebih baik aku menenangkan diri dan segera shalat dhuha. Setelah shalat, sambil menonton tv aku meminum sebanyak-banyaknya air. Aku harus berjuang. berjuang melawan diri sendiri minimal. 

Pukul 10.00 tiba-tiba namaku dipanggil lagi dari luar. Dengan berjalan lesu aku menengok setengah ke luar. Ternyata petugas scanning. Yeaaayyy, "Kamu bawa air minum segera ke ruang scanning ya" katanya. Dengan ceria aku lantas menuju basement tempat scanning dilakukan. Biar gak nervous selfie duluuu hehehehe~

Akhirnya scanning 30 menit itu selesai juga dan petugas memintaku segera masuk ke ruangan lagi. "Kamu makan dan minum yang banyak ya, besok pagi setelah mandi kamu dicek lagi paparan radiasinya. Semoga besok bisa pulang." pesan dokter menutup siang yang mendebarkan.


Benar, semua jawaban Allah atas doa kita  itu "Ya" semua :
Ya, saat ini kuberikan
      Ya, tunggu aku ingin lihat usahamu dulu
             Ya, Tidak dengan ini, aku punya yang lebih baik dari ini

Dan, YA. Kamu sembuh. Belum sekarang tapi besok :)




0

Secawan kisah dibalik ruang isolasi nuklir (2)

Posted by Rianita Riska Diana on Tuesday, July 07, 2015 in , , , ,
Pagi hari
Ruang isolasi hari ke-2
Selasa, 7 Juli 2015, Ramadhan 1436 H

Pagi Susu coklat, telur rebus dan roti tawar isi selai strawberry (Sarapan setiap pagi di ruang rawat inap isolasi RSHS) :) Tulisan ini juga diselesaikan sambil menghabiskan sebotol air mineral ukuran 1500 liter. Ya, 1500 liter untuk ketiga kalinya. 
Yap, harus habis pagi ini. Harus banyak penyakit yang harus ia bawa keluar dari tubuhku. Rasanya? Ah cobalah bayangkan menahan rasa tidak nyaman akibat iodine radioaktif yang aku minum kemarin sore, mual dan langu. Tapi aku harus banyak makan dan minum untuk membuang penyakit-penyakit yang ditangkap iodine radioaktif itu serta paparan radiasi di tubuhku cepat berkurang dan aku diperbolehkan segera pulang.


Ini sudah botol ketigaku, semangat! Setengah botol lagi.
Ibuku baru saja datang membawakan makanan kesukaanku. Banyak makan katanya. Jadi dia membawakanku emping jagung pedas, kentang pedas, kerupuk pedas, anggur, strawberry, jeruk, nata de coco strawberry, dan pastinya rendang. Hmmm
Iyah, disini bebas kok mau makan apa kecuali seafood atau makan makanan ber-iodium tinggi. Daripada pusing mual-mual makan makanan yang disediakan rumah sakit (kurang bumbu sesuai pertimbangan ahli gizi) lebih baik minta tolong orang rumah untuk mengantarkan makanan yang kita suka. Dibalik kiriman makanan dari rumah, ada cinta yang rupanya diam-diam terbaca, ada doa yang diam-diam diulang-ulang tiap malam oleh mereka.

Ada semangat dibalik pertanyaan “Rianti, Kamu sudah minum  air berapa liter pagi ini?”. Yiah sudah hari kedua dokter selalu salah memanggil namaku. Rianti. Mungkin terlalu ribet memanggil Rianita. Tapi aku bahagia banyak orang peduli padaku. Kamu harus semangat sehat. Kesembuhan Allah yang punya. Mintalah umurmu diberkahkan-Nya. Semangat seolah bertambah ketika pertanyaan itu kembali dipertanyakan. Ya, intinya mereka ingin aku juga semangat. Semangat untuk mengalahkan ego. Semangat mengalahkan diri sendiri. Semangat segera memulihkan kesehatan.

Ada doa di tiap pertanyaan cemas orang-orang yang mencium gerak gerikku di-isolasi nuklir kemarin. Tadi pagi banyak sekali BBM (Blackberry messenger) dari rekan yang tampak khawatir membaca statusku. “Kamu sakit lagi ka?” “Teteh dirawat lagi?” dan masih banyak pertanyaan serupa yang terulang. Aku jawab saja, “ Tidak, aku hanya harus banyak makan dan minum saja terapi pasca operasi kemarin”. Ternyata jawaban macam ini cukup melegakan mereka. Terima kasih sudah percaya. Terima kasih karena sudah banyak mendoa banyak-banyak untukku.


Terima kasih atas prasangka baik. Doa yang tak tereja namun sampai pada-Nya

Di Ruang isolasi nuklir RS. Hasan Sadikin (Hari kedua)

Salam,

Senja Januari



2

Secawan kisah dibalik ruang isolasi nuklir (1)

Posted by Rianita Riska Diana on Monday, July 06, 2015 in , , , , ,
17.53

6 Juli 2015
Welcome to the war!!
Awas bahaya! Radiasi!
Yah begitulah tulisan mengerikan terpasang di depan kamar kami.


Kamar yang cukup luas untuk kami berdua. Aku dan seorang ibu paruh baya yang sangat tangguh yang kini menjalani ablasi keduanya. Seorang ibu yang sangat baik dengan ikhlas selalu berbagi ini itu tips ini dan tips itu.

Semua baju yang aku kenakan awal datang kesini tadi harap di masukkan ke dalam plastik kemudian dimasukkan ke lemari dan jangan dipegang hingga tingkat radiasi ku normal beberapa hari ke depan nanti. Aku diberi baju berbentuk seperti kimono berwarna ungu yang cukup hangat dan nyaman. Semua baju yang aku kenakan harus dibungkus plastic dengan rapi karena semuanya sudah terpapar radiasi. Yiah begitulah briefing singkat suster padaku.

Sebelum diminumkan iodium radioaktif dengan takaran 100 millicuries, aku diminta minum obat anti mual dahulu untuk mengurangi efek pasca diminumkan nuklir nanti. Kemudian kemasan besi berwarna kuning bertuliskan namaku itu langsung diminta suster berompi anti radiasi, bermasker dan sarung tangan lengkap untuk aku minum. Bismillah ucapnya membimbingku.

Cairan bening dan tak berasa itu sudah masuk ke tubuhku. Dia akan menempel pada sel-sel kanker dalam tubuhku. Rasanya memang agak berat di leher. Tapi motivasi dari ibu sekamarku, “Jangan berpikir kamu sedang dalam pengobatan. Biasa saja, kalau tiba-tiba mual anggap saja bukan apa-apa.” Begitu motivasinya padaku berulang kali. "Ya bu, terima kasih", jawabku yang juga berulang kali padanya.  
Aku bertanya-tanya, kenapa ibu ini harus menjalani ablasi yang keduanya, malah di ruang tunggu tadi ada seorang ibu yang menjalani ablasinya untuk ketiga kali dan kelima kali.
Ketakutan membayang cukup hebat dibenakku, haruskah aku melakukan hal yang sama kelak? Haruskah ujian ini aku lewati berkali-kali kelak? Menahan air mata pun tak kan berarti apa-apa jika tak bertanya pada sang Pemilik badan ini, pada Sang Pemilik hati ini. Semua takkan berarti jika tak berprasangka baik pada Allah, Semua tak kan berarti. Bukankah prasangka juga berarti harap yang tak dieja? Sedangkan tiap harap selalu didengarkan oleh Allah.

Rupanya Allah lebih tau bagaimana melindungi dan menyayangi hamba-Nya, Allah tau bagaimana cara memberkahkan rezeki hamba-Nya, Allah tau bagaimana cara menggugurkan dosa-dosa hamba-Nya.
Pappiliary Carcinoma Thyroid Dextra. Sederhananya Kanker tiroid. Tak pernah terbayangkan akan mengidap penyakit itu. Penyakit kanker. Tak pernah. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir riwayat kesehatanku baik-baik saja dan berprasangka baik atas semuanya. Namun rupanya ada pelajaran yang hendak Allah sampaikan. Yang bisa jadi hikmah dari peristiwa H-3 bulan dokter memvonis kanker ini yang ikut menjadi pemicu munculnya kanker ini. Emosi yang mendalam dan dipendam tak terungkapkan. Bisa jadi. Tapi aku sudah mengikhlaskan itu semua. Ikhlas seiring kanker yang jua sudah diikhlaskan. 
Kanker itu bukan ujian ataupun musibah. Kanker adalah takdir. Suatu ketidakmungkinan dalam benak manusia yang dengan mudahnya Allah mungkinkan dengan "Kun Faa yakun"-Nya.

Di Ruang isolasi nuklir RS. Hasan Sadikin (Hari Pertama)


Baca juga: Secawan kisah dibalik isolasi nuklir (2)
                secawan kisah dibalik ruang nuklir (3)


Salam,

Senja Januari

0

Tiroidku Mengajarkanku (1)

Posted by Rianita Riska Diana on Friday, June 12, 2015 in ,
Banyak pelajaran hidup yang harus cepat aku pelajari di awal usia 22 tahunku. Disaat teman-teman seperjuangan masih asik bergelut di perkampusan atau ramai dengan seputar kisah yang mereka sebut dengan orang yang mereka cinta namun tak halal baginya atau mereka yang asik upload hasil wara-wiri dari satu cafe ke cafe lainnya. I really don't care exactly. itu pilihan masing-masing pribadi. Aku menghargainya. Di awal usia ini aku harus belajar berlapang dada atas segala jalan hidup yang Allah berikan, rasanya pertama kali itulah i feel so down. Apalah manusia yang tak tau apa-apa ini bersombong diri seolah tau apa yang terbaik untuknya. Padahal sebaik-baik skenario hanya Allah-lah yang tau. Sebaik-baik perancang hanya Allah. Tapi Allah menegakkan dagu yang menunduk itu melalui tiroidku. 

Tepat tanggal 12 Januari 2015 setelah kejadian yang cukup menguras tenaga dan air mata, ibuku memintaku untuk periksa ke dokter. Padahal aku merasa tak ada nyeri atau keluhan apapun yang aku lontarkan pada kedua orang tuaku. "Aku tak demam, tak ada nyeri, tak pula merasa terganggu atas apa yang ada pada tubuhku. Aku sehat bu." begitu jelasku pada ibu. "Tapi tidak mungkin sesuatu yang dulunya tak ada menjadi ada merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja. coba cek di lehermu ada sesuatu yang membesar. kalau menelan pun dia naik turun, gak mungkin kan jakun?" tanya ibu meyakinkan. Akhirnya aku menyerah. oke, akan ku periksakan.

Di klinik umum, setelah antrian yang cukup panjang. Dokter wanita itu memeriksaku. Dia memintaku untuk meluruskan kedua tanganku lalu ia meletakkan selembar kertas di atas tanganku. "Tak bergetar." ucap dokter. "Telapak tangan kamu suka berkeringat tidak?" Tanya dokter. "Tidak, dok biasa saja." jawabku keheranan. kemudian dia menekan leherku dan mencoba meraba benjolan yang ada tepat berada di leher bagian bawah di atas dada. Dokter tampak kebingungan. Hmmm apa lagi aku. Tahukah? akhirnya aku hanya diberi vitamin saja tanpa diagnosa apapun. Dokter bilang aku baik-baik saja. Kemudian aku pulang tanpa diagnosa.

Sesampainya di rumah, ibuku kebingungan dan tak dapat menerima hasil periksa dokter umum itu. Lalu ia memintaku untuk periksa ke dokter yang berbeda. Aku meminta izin untuk diperiksa di hari kamis minggu depan saja. aku harus mengajukan cuti lagi. Aku masih harus menunaikan kewajibanku di tempat kerja.

Di hari kamis, aku periksa kembali ke dokter yang berbeda. Ditemani novel merah karya Tere Liye aku duduk diantara antrian yang panjang menunggu dokter favorit itu hadir. Entah apa yang terjadi padaku pagi itu, air mata tak kunjung dapat kubendung. Setelah kejadian sore kemarin yang cukup menohok dan menghujam dalam hatiku. Ada jawaban dari pertanyaanku pada Allah yang harus aku baca dan terima. Aku harus melapangkan dada dulu dan melembutkan hati agar cahaya petunjuk itu masuk. Seraya terus menutupi mata yang entah sudah se-membengkak apa hha, Finally giliranku periksa. Dr. Didin menyapaku ramah, kemudian dia sabar mendengarkan keluhanku dan melihat benjolan di leherku. Cemas menunggu diagnosa dokter. Tanpa berkata-kata beliau menatapku dan mulai menuliskan resep. Aku hanya dirujuk ke salah satu laboratorium klinik untuk cek darah T3, T4, TSH dan melakukan USG di leher. Setelah ada hasilnya, kembalilah periksa.

Tanggal 24 Januari 2015, di hari tepat aku berusia 22 tahun. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana hari lahir yang banyak orang-orang mengingatkan dengan doa-doa dan bahkan hadiah-hadiah manis. Hariku itu dipenuhi kecemasan. Aku kebingungan. Kemana perginya hati yang tenang seperti sebelum-sebelumnya? hasil periksaku keluar. Aku harus kembali cek ke Dr. Didin. Dari hasil lab darah, semuanya normal. Namun dari hasil USG leher, ada benjolan yang cukup besar sekitar 2 cm lebarnya. Kemudian Dr. Didin merujukku ke Dr, Dian seorang dokter spesialis dalam di RS. Santo Yusup Bandung.   

Awal Februari, aku akui memang hari-hari yang cukup berat. Rasanya kepala sesak memikirkan pikiran ini itu. Ya sahabat ya keluarga ya papah ya ibu ya orang lain ya dia. Semuanya menyesakkan rasanya. Tapi Allah selalu tau melapangkan hati hamba-Nya yang tak lelah berharap. Aku harus selalu dapat menyenangkan orang-orang sekitarku. Aku harus sehat, Begitu sugesti baik yang selalu aku tanamkan. Sore itu aku menunggu di klinik spesialis dalam ditemani ibu. Again and again, dokter kemudian merujukku pada Dr. Kiki Ahmad Rizki dokter spesialis bedah onkologi  di rumah sakit yang sama. Dia dokter sibuk, kalau pasien telat ya sudah mengantrilah di hari berikutnya. Namun sayangnya dia hanya ada di RS. Santo Yusup pada hari selasa, kamis dan sabtu saja. Nice.

Sepulang kerja aku memberanikan diri untuk periksa seorang diri ke Dokter bedah onkologi. Finally, dia memarahiku. "Kamu kan masih Nona datang periksa ya sama orang tua, kalau sudah Nyonya baru boleh ga bawa orang tua tapi sama suamimu." Jelas dokter dengan senyum menyindir. Hmmm Begitu penjelasan dokter yang hanya ku balas dengan senyum. "Oke jadi gimana dok?" tanyaku. "Kamu harus segera dioperasi, tumornya sih jinak, tumbuhnya lama, kamu juga gak nyeri apapun dan demam kan? Saya ambil tiroid sebelah kanan kamu itu. diameternya sudah 2 cm lebih. Hasil darahnya baik, kamu gak hipertiroid gak juga hipotiroid, itu cuma nodul tiroid" jawab dokter yang kemudian membuat sekujur badanku lemas.  "Kembalilah segera kesini bersama orang tuamu, akan saya jelaska dan supaya kamu bisa segera naik ke meja operasi." jelasnya.

Sore itu aku pulang dari rumah sakit sendiri sambil terus mengusap air mata yang menetes tak karuan dari sudut gelap mataku.

Mungkin, Allah hendak memberi tahu jawaban lagi atas tanyaku yang belum terjawab. Tapi apa?


-RRD-    

0

Rembulan Malam Kemarin

Posted by Rianita Riska Diana on Wednesday, February 04, 2015 in ,

Hai kau, malam tadi apa kabar?

Apakah kau mendongakan kepalamu ke langit malam tadi? Tahu tidak? ada rembulan sendu yang memandangi kita semalaman tadi.
Ia tampak bercahaya semalam, tapi sayang sekumpulan kabut mendekapnya sangat erat semalaman. Aku khawatir ia takut dan kedinginan. Aku khawatir ia tak dapat menghantarkan dongeng malamnya seperti biasa. ah tapi apalah aku ini hanya terus mengomentarinya namun hanya mampu memandanginya saja tanpa berbuat apa-apa. Tapi sesulit apapun ia semalam, dia tetap cantik menerangi dengan hiasan cahaya temaramnya melawan awan. 
Pada rembulan yang memantulkan dirinya ke genangan air sisa hujan sore kemarin, aku genangkan pula doa-doa teruntuk yang terbaik. Untuk orang-orang terbaik yang seharusnya mendapatkan hal-hal terbaik pula di kehidupannya. Untuknya, untuk mereka juga kau. 
Pada rembulan yang meniti helaian alang-alang aku selipkan titian rindu teruntuk yang tiada lelah mendekapku dari jauh, mengusahakan kebaikan-kebaikan tersembunyi untukku, jua menjagaku melalui doa-doa kecilnya untukku. Terima kasih. Biarkan rindu itu meluruh bersama hujan yang sepanjang sore turun. Biarkan dia jatuh menetes ke dahan dan dedaunan. Biarkan ia jatuh masuk ke sela-sela tanah dan mengeluarkan aroma khasnya selepas hujan. Aroma tanah penuh kerinduan. Ah sudahlah.
Hai kau, tidakkah kau dengar suara jangkrik yang menyibak sunyi semalam? ia lompat-lompat kegirangan menari-nari di bawah temaramnya bulan. Bahagia ya? Aku harap kau juga begitu. Jauh jarak yang membentang memisahkan kau dan aku kiranya tak merubah indahnya rembulan kan? Jadi tataplah bulan malam esok, toh kita akan menatap rembulan yang sama kan? dan biarkan dendang rindu meramaikan malam dan memupus hitamnya prasangka.


Jatinangor, 4 februari 2015

0

10 Ciri pribadi Muslim

Posted by Rianita Riska Diana on Saturday, January 31, 2015 in
Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih).
Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)

0

Merindu Langit

Posted by Rianita Riska Diana on Wednesday, January 21, 2015 in ,

Angin malam menghantamku tanpa ampun sedari tadi. Namun aku hanya dapat diam memandangi langit malam yang berat digelayuti awan hitam. Ya. memandangimu dari jauh.

Kamu tampak mendung menjauh bergerak mengikuti angin malam itu
Aku terduduk menantimu jauuuuuuuuuh di tanah kering bumi yang rasa-rasanya mengharap-harap hadirnya rintikan hujan sedari tadi. Menantikan bulir-bulir keberkahan dari langit yang kuharapkan setidaknya mendekatkan jauhnya jarak antara kau dan aku.
Namun sudah puluhan ratusan hingga ribuan detik rasanya ku menanti hujan malam itu tapi ternyata hujan tak kunjung tiba ke bumi ku
Tanpa kabar berita dari sang rembulan, tanpa ada pesan dari kunang-kunang yang berbisik atau tanpa cerita yang biasa kau titipkan melalui embun keesokan harinya? mengapa sepi? mengapa sunyi? Kau tak biasanya begini? 
Sadarkah kita begitu jauh sekarang?! sadarkah betapa jauhnya kau menjauh dariku sekarang? Saat ini rasanya mendekat padamu justru menyesakkan. Mengapa justru di januariku kau semendung itu? diam, bergerak menjauh terbawa angin, berawan hitam, memendam guntur. Ah kau! kenapa?!
Baiklah, Apalah aku ini hanya bumi yang hanya bisa menanti dari jauh kabar dari langit. Mungkin aku ditakdirkan untuk menanti. Sabar menanti dan terus memperpanjang kesabaranku menanti. Hingga Allah menakdirkan kapan waktunya langit berkabar. Di waktu yang terbaik. Di saat terbaik, dengan diiringi takdir-takdir baik lainnya pula.
Apa kabarmu langit? Segeralah berkabar. Ku nanti kau disini, jauuuuuhh memang, tanah bumi. Tapi sejauh apapun aku, aku senantiasa memandangimu setiap malam. Aku disini menyunggingkan senyum di gelapnya malam, sengaja. Agar ketika tetiba bulir hangat jatuh dari sudut gelap mataku tak terlihat olehmu. Biarlah ia menderas, melegakan hatiku yang jenuh menanti. Ah apalah aku ini. Biarlah kunanti kau disini saja agar kau mudah menujuku saat nanti langit berkabar.

Bandung, 21 Januari 2015


Salam,

Senja Januari

0

RIANITA RISKA DIANA

Posted by Rianita Riska Diana on Sunday, January 04, 2015 in
Dilahirkan di salah satu kabupaten di yogyakarta yakni kabupaten kulon progo. Lahir 24 Januari 1993. Anak ke-2 yang menjadi anak sulung setelah kakakku Allah panggil lebih dahulu di tahun 1991 beberapa hari setelah dilahirkan. Allah lebih sayang mas.

Masa bayiku banyak dihabiskan di jogja dan bali. Di Bali adikku lahir namanya Latif Wahyu Ardi. kemudian papah dipindahtugaskan lagi ke Kota Wates, kabupaten Kulon Progo Yogyakarta hingga aku mengenyam pendidikan Taman Kanak-kanak di usia 3,5 tahun. Pendidikanku berlanjut di  Palembang Sumatera Selatan. Setelah orang tuaku dipindah tugaskan ke sana. Di Palembang tepatnya tahun 2000 ibu melahirkan adikku yang bernama Hafiz Rafi Ardi. Aku terbiasa bergaul dengan orang-orang yang relatif lebih keras dibanding di jogja sana. Tipe orangnya sungguh sangat berbeda. Aku melanjutkan pendidikanku ke SD Negeri 48 Palembang Sumatera selatan. Catur Wulan ke 3 hingga sekarang aku tumbuh dan berkembang di Bandung Jawa barat. Melanjutkan sekolah ke SD islam Asy-Syfa 2, SMP N 14 Bandung, SMA N 20 Bandung kemudian Diploma III Akuntansi Universitas Padjadjaran dan sekarang di Ekstensi S1 Akuntansi Universitas Pasundan.


Sebagai sulung dan perempuan satu-satunya pernah menjadi dilema besar dalam masa remajaku. Aku harus menjadi teladan terbaik untuk kedua adik laki-lakiku, Anak perempuan bisa ya jadi teladan untuk anak laki-laki(?) itu pertanyaan besarku dulu hingga rasanya ingin sekali punya kakak seperti teman-teman yang lain. Kakak yang bisa ditanyai ini itu, dimintai tolong ini itu dan mengarahkan ini itu. Tapi menurut Allah bukan itu yang kubutuhkan. Jawabannya adalah cukuplah menjadi sebaik-baik teladan, arahkan sebisanya dan doakan seoptimalnya.

Ayat Alquran yang paling aku sukai adalah
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (QS.Muhammad:7)
Quotes reminder diri:
"Jika belum bisa setangguh fatimah yang membendung rasa pada Ali hingga waktunya maka cukuplah nikmati hati tanpa nama hingga waktunya" -Rianita Riska Diana-

Suka sama quotes ini:
"Aku menilai kedewasaan dan kebijaksanaan seorang laki-laki pada tiga keadaan: kecewa, marah dan sedih. Ia yang mampu mengendalikan diri dan memberikan takaran emosi yang pas dalam ketiganya dengan baik adalah yang paling patut dijadikan pemimpin."-
Sebab ia esok akan berhadapan dengan ‘tulang rusuk yang bengkok’, yang akan patah bila tak diluruskan dengan hati-hati.  Anonim*, dengan perubahan  (Source: khoiriyalatifa)
Itu sekilas tentang Aku dan keluargaku. To be continued insyaAllah.....


Copyright © 2009 CURHATAN PEJUANG TIROID All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.